LAPORAN KEGIATAN STUDY LAPANGAN
DI
KAWASAN PANTAI TUBAN(P.BOOM,
P.MANGROVE, P.PASIR PUTIH)
SMA
NEGERI 1 SINGGAHAN
Jl. Raya Mulyoagung No. 1122 Singgahan – Tuban
TP. 2015/2016
Nama Kelompok :
Anas Afifi (02)
M. Iwan Falih (19)
Oktavia Safitri (23)
Yuni Dwi Parastuti (32)
LEMBAR PENGESAHAN
Study Lapangan di kawasan pantai tuban
Pantai BOOM
Pantai Mangrove Center
Pantai Pasir Putih
Disajikan sebagai salah satu tugas
Untuk melengkapi nilai di SMA Negeri 1 Singgahan
Singgahan, 12 Mei 2016
Mengetahui,
Wali
Kelas X-5 Guru Mata pelajaran
CIPUNG
BAYU H, S.Pd SAMSUL HADI, S.Pd
NIP.
- NIP. 19660316 199601 1 002
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan kehadiran Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya pada kita semua sehingga kami bisa menyelesaikan Laporan
Hasil Study Lapangan ini dengan baik dan
lancar, untuk melengkapi nilai di SMA Negeri Singgahan.
Tak
lupa kami ucapkan terima kasih yang sebanyak – banyaknya kepada yang terhormat:
1.
Bpk. Drs. Sigit Pujiono, selaku Kepala sekolah SMA Negeri 1 Singgahan
2. Bpk. Cipung Bayu H, S.Pd, selaku wali kelas X-5 yang telah
mendampingi kita selama Study Lapangan
3. Bpk. Samsul Hadi, S.Pd, selaku Pembina Study Lapangan sekaligus
Guru Mata pelajaran biologi
4. Siswa – siswi Kelas X-5 SMA negeri 1 Singgahan yg telah
bekerjasama dengan baik selama Study Lapangan berlangsung.
5. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan Laporan Hasil
Study Lapangan ini. Semoga segala bantuan dan dukungan yang diberikan kepada
kami, mendapat imbalan yang berlipat dari Allah SWT, amin.
Kami menyadari dalam Laporan Hasil Study Lapangan ini masih banyak
kekurangan, sehingga saran dan kritik yang membangun sangat kami butuhkan dalam
penyempurnaan Laporan Hasil Study Lapangan ini. Atas saran, kritik maupun
bantuaannya kami ucapkan terima kasih.
Singgahan, Mei 2016
Penyusun
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I : PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
b. Tujuan Study Lapangan
c. Manfaat Study LApangan
d. Waktu Pelaksanaan
BAB II : LANDASAN TEORI
a. Dasar Teori
b. Metodologi
BAB III : PEMBAHASAN
a. Hasil Observasi Studi Lapangan di
Bandung
b. Penjelasan
BAB IV : PENUTUP
a. Kesimpulan
b. Saran
DAFTAR PUSAKA
LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Pelajar
adalah peserta didik yang memiliki potensi intelektualnya memiliki tugas pokok
dalam pendidikan di sekolah, guna pengembangan kemampuan dalam ilmu
pengetahuan, teknologi dan seni dalam dimensi kehidupan masyarakat di
Indonesia. Dalam dua perspektif tersebut, maka potensi yang dimiliki perlu
dikembangkan, salah satunya dengan cara mengadakan Study Lapangan
Akan banyak memberikan efek positif
kepada pelajar, karena dengan melihat dan mempelajari langsung maka para
pelajar akan lebih terbuka wawasan dan intelektualnya sehingga pelajar yang
dibimbing oleh guru tersebut menerapkan konsep ideal yang dipelajarinya
dilapangan. Dan pendidikan akan berkembang lebih maju lagi.
SMA Negeri Singgahan tahun pelajaran
2015/ 2016 mengadakan Study Lapangan ke Kawasan pantai di wilayah Tuban untuk
menambah wawasan. Kami mengunjungi Pantai Boom, Pantai Mangrove, dan Pantai
Pasir putih supaya kami dapat mengetahui tentang jenis-jenis hewan laut yang
ada di pantai tersebut, dapat menyebutkan nama dan ciri-cirinya, serta dapat
menyebutkan manfaat dari hewan tersebut.
b. Tujuan Study Lapangan
a) Untuk
mengetahui keanekaragaman hewan laut yang ada di pantai
b) Dapat menyebutkan nama dan ciri-ciri dari
masing-masing jenis hewan laut yang ada di pantai
c)
Untuk mengetahui klasifikasi dari jenis-jenis hewan laut yang diteliti
d) Dapat
menyebutkan manfaat dari hewan laut yang ada diteliti
e) Untuk menambah pengetahuan dan wawasan siswa
c. Manfaat Study Lapangan
Hasil dari Study Lapangan ini diharapkan dapat memberikan manfaat
sebagai berikut:
a) Menambah informasi dan ilmu
pengetahuan tentang hewan laut
b) Sebagai bahan study lanjutan
dalam pembelajaran
d. Waktu Pelaksanaan
06.30 Persiapan
pemberangkatan (berkumpul di sekolah)
06.30-07.30 Berangkat
dari sekolah ke Pantai BOOM
07.30-10.00 Pantai
BOOM
10.00-10.30 Menuju
ke Pantai Mangrove
10.30-13.00 Pantai
Mangrove sekaligus ISHOMA
13.00-13.30 Menuju
Pantai Pasir Putih
13.30-15.00 Pantai
Pasir Putih
15.00 kembali
ke sekolah
BAB II
LANDASAN TEORI
a. Dasar Teori
Study Lapangan merupakan bagian dari
metode pembelajaran, yang berusaha memberikan pengetahuan yang komprehensif
kepada para siswa tentang sesuatu hal. Study Lapangan adalah kegiatan di luar
kelas yang betujuan untuk mempelajari proses yang sebenarnya, orang dan obyek. Study Lapangan
diadakan karena kebutuhan siswa untuk
mendapatkan pengalaman dari tangan pertama. Hal tersebut diadakan karena tidak
mungkin menghadirkan / memanfaatkan setiap peristiwa ke dalam kelas untuk
dipelajari dan diamati. Sebuah study
lapangan memberikan banyak kemungkinan pencapaian tujuan pendidikan antara lain :
Study Lapangan menyediakan sebuah sumber yang dapat memperkaya informasi faktual yang tercantum dalam buku , dan membuat teks
dalam buku menjadi berarti. Mengembangkan sikap, memperluas pengertian dan meningkatkan
ketrampilan. Menyediakan berbagai pengalaman melalui obyek, tempat, situasi, dan
hubungan antar manusia yang tidak dapat disediakan di kelas. Mempertajam kesadaran siswa terhadap lingkungan. Memadukan kelas dengan lingkungan yang lebih besar dan lebih
berarti.
b. Metodologi
a) Waktu dan Tempat
Study Lapangan
ini dilaksanakan pada hari Minggu, tanggal 17 April 2016 di Pantai BOOM, Pantai
Mangrove, dan Pantai Pasir Putih di wilayah Tuban
b) Alat
Alat-alat yang dipakai dalam Study
Lapangan ini adalah:
>>Alat tulis
>>Alat Dokumentasi (kamera digital dan handphone)
>>Toples
plastik 3 buah
c) Metode yang
digunakan
Metode yang
kami gunakan untuk mencari informasi sebagai bahan pembuatan laporan hasil
Study Lapangan adalah sebagai berikut:
1) Metode Observasi
Kami melakukan pengamatan terhadap hewan laut yang kami teliti
secara langsung di lapangan.
2) Metode Online
Kami mencari
data yang berhubungan dengan hewan laut yang kami teliti melaui media internet
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
Setelah
dilakukan Study Lapangan di Pantai BOOM, Mangrove, dan Pasir Putih oleh kelas
X-5, kelompok kami mendapatkan beberapa jenis hewan laut diantaranya sebagai
berikut:
A. Aurelia aurita (Ubur-Ubur)

] Kingdom : animalia
] Filum : coelenterate
] Kelas : schyphozoa
] Ordo : decapoda
] Familia : aureliaceae
] Genus : Aurelia
] Spesies : Aurelia aurita
Aurelia aurita (Ubur-Ubur) merupakan anggota filum Coelenterata,
kelas Scyphozoa. Ubur-ubur mempunyai
bentuk seperti mangkuk yang dikenal sebagai Jelly Fish, hidup di laut
secara planktonic yang melayang pada badan air, dan hewan ini memiliki lapisan
mesoglea yang tebal dan dapat digunakan sebagai sumber nutrisi. Pada masa
hidupnya, bentuk tubuh medusa lebih dominan dibandingkan dengan bentuk polip. Bentuk polip hanya dijumpai pada waktu
larva. Hewan ini memiliki alat kelamin yang terpisah pada individu jantan dan
betina. Pembuahan ovum oleh sperma secara internal di dalam tubuh individu
betina. Hasil pembuahan adalah zigot yang akan berkembang menjadi larva bersilia disebut planula. Planula akan
berenang dan menempel pada tempat yang sesuai. Setelah menempel. Silia
dilepaskan dan planula tumbuh menjadi polip muda disebut scifistoma, kemudian
membentuk tunas-tunas lateral sehingga tampak seperti tumpukan piring atau
strobilasi. Kuncup dewasa paling atas akan melepaskan diri menjadi medusa
disebut efira. Selanjutnya efira berkembang menjadi medusa dewasa.
Ubur-ubur memiliki siklus reproduksi khusus. Ubur-ubur tidak
memiliki sistem tubuh khusus untuk reproduksi. Ubur-ubur jantan melepaskan
sperma dalam air. Betina membawa telurnya di mulutnya atau perut. Ketika sperma
yang dilepaskan di dalam air bersinggungan dengan telur betina, mereka dapat
dibuahi. Pada tahap embrio, telur yang dibuahi tersebut disimpan dalam kantong
mengerami sepanjang lengan mulut dari betina atau di perutnya. Setelah tahap
embrio berakhir, larva bisa berubah menjadi planulae kecil yang berenang bebas
dan mereka melepaskan diri dari tubuh ibu mereka. Pada tahap ini, mereka mulai
tenggelam menjelang akhir dalam laut sampai mereka menempel pada permukaan yang
keras dan tahap berikutnya dalam siklus reproduksi mereka dimulai.
a) ASEKSUAL
(VEGETATIF)
]] Dilakukan dengan membentuk
kuncup pada kaki pada fase polip.
]] Makin lama makin besar, lalu
membentuk tentakel.
]] Kuncup tumbuh disekitar kaki
sampai besar hingga induknya membuat kuncup baru. Semakin banyak lalu menjadi
koloni.
b) SEKSUAL
(GENERATIF)
]] Dilakukan dengan peleburan sel sperma dengan sel ovum (telur) yang
terjadi pada fase medusa. Letak testis di dekat tentakel sedangkan ovarium
dekat kaki.
]] Sperma masak dikeluarkan lalu berenang hingga menuju ovum.
]] Ovum yang dibuahi akan membentuk zigot.
]] Mula-mula zigot tumbuh di ovarium hingga menjadi larva. Larva
bersilia disebut Planula
]] Planula berenang meninggalkan induk dan membentuk polip di dasar
perairan.
B. Kepiting Uca (Kepiting pasir)
Klasifikasi Ilmiah :


] Kingdom : Animalia
] Phylum : Arthropoda
] Sub Phylum : Crustacea
] Class :
Malacostraca
] Ordo : Decapoda
] Family : Ocypodidae
] Genus : Uca
]
Spesies : Uca Sp
Kepiting Uca atau disebut juga Kepiting Fiddler mempunyai 97
spesies yang tersebar di hutan bakau, rawa-rawa, dan pada pantai berpasir atau
berlumpur Barat Afrika, Atlantik Barat, Timur Pasifik dan Indo-Pasifik. Mereka
sering ditemukan dalam jumlah besar.
Kepiting Uca memiliki perilaku lucu yaitu makan, bertengkar dan
kawin, semua dilakukan pada waktu yang sama. Kepiting ini termasuk kepiting
yang berukuran kecil (yang terbesar cuman sekitar 2-3 cm) Seperti semua
kepiting, Kepiting Uca mengalami moulting atau berganti cangkang saat mereka
tumbuh (seperti ganti kulit pada ular). Dalam proses moulting ini, capit dan
kaki yang telah putus sebelumnya akan kembali muncul.
Hal yang unik dari kepiting ini adalah dwimorfisme seksual, dimana
kepiting jantan mempunyai satu buah capit besar yang berwarna cerah kontras
dengan karapaksnya, dan betina tidak mempunyai capit yang besar. Capit tersebut
berbentuk seperti biola dan mempunyai berat hampir seberat kepiting itu
sendiri. Capit besar tersebut digunakan untuk menarik betina dan untuk
mengintimidasi jantan pesaingnya. Kepiting ini menggerakan capit besar dengan
gaya dan irama unik dalam upaya untuk menarik betina. Kepiting Fiddler mendapat
nama mereka untuk perilaku yang menyerupai seorang musisi bermain biolanya.
Pada kepiting jantan, jika capit yang besar hilang maka setelah moulting capit
besar tersebut akan tumbuh lagi di sisi sebelahnya (jika awalnya capit besar di
sebelah kiri putus, maka setelah moulting bagian yang putus di sebelah kiri
akan menjadi capit kecil, dan capit kanan akan membesar).
Kepiting Uca betina membawa kumpulan telur di sisi bawah tubuhnya
dan akan menetap dalam liangnya selama dua minggu. Setelah itu betina akan
berusaha keluar untuk melepaskan telurnya ke dalam air pasang surut. Telur
menetas menjadi larva berenang bebas yang hanyut dengan plankton, namun berubah
menjadi bentuk lain sebelum menetap dan berkembang menjadi Kepiting Uca.
Kepiting
Uca merupakan detritivor. Capit Kepiting Uca yang kecil mengambil sepotong
sedimen dari tanah dan membawanya ke mulut, kemudian menyaringnya. Setelah
didapatkan baik itu ganggang, mikrobia, jamur, atau detritus membusuk lainnya,
sedimen dikeluarkan dalam bentuk bola-bola kecil. Beberapa ahli percaya bahwa
kebiasaan makan Kepiting Uca tersebut memainkan peranan penting dalam
pelestarian lingkungan lahan basah, karena tanah menjadi teraduk dan mencegah
kondisi anaerobik.
Kepiting Uca dapat mengubah warna. Kadang-kadang, mereka tampil
beda di malam hari dan siang hari. Pada beberapa spesies, laki-laki mencerahkan
warnanya selama musim kimpoi. Hal ini membuat sulit untuk mengidentifikasi
spesies yang berbeda dari Kepiting Uca dengan warna mereka saja. Spesies
umumnya dibedakan oleh struktur penjepit mereka daripada oleh warna saja.
Karena keunikan dan keindahan bentuknya itu, maka Kepiting Uca ini di perjual
belikan (kebanyakan masih luar negeri) dengan harga yang lumayan.
Habitat
Kepiting merupakan fauna yang habitat dan penyebarannya terdapat di
air tawar, payau, dan laut. Jenis-jenisnya sangat beragam dan dapat hidup di
berbagai kolom di setiap perairan. Sebagian besar kepiting yang kita kenal
banyak hidup di perairan payau terutama di dalam ekosistem mangrove. Beberapa
jenis yang hidup dalam ekosistem ini adalah Hermit Crab, Uca Sp, Mud Lobster
dan kepiting bakau. Sebagian besar kepiting merupakan fauna yang aktif
mencari makan di malam hari (nocturnal).
Konsentrasi maksimum kepiting terjadi pada malam hari pada saat air
pasang. Kebanyakan kepiting memanjat akar mangrove dan pohon untuk mencari
makan. Pada saat siang hari, waktu pasang terendah kebanyakan kepiting tinggal
di dalam lubang untuk berlindung dari serangan burung dan predator lainnya. Beberapa
spesies seperti Sesarma erythrodactyla dan Paragrapsus laevis pada saat
air surut, turun ke bawah untuk berasosiasi dengan telur-telur ikan.
C. Kerang (Anadara Sp)
Klasifikasi Ilmiah :
Klasifikasi Ilmiah :

] Kingdom : Hewan
] Filum : Moluska
] Filum : Moluska
] Subfilum :
Invertebrat
] Kelas :
Bivalvia
] Ordo :
Veneroida
] Super Keluarga :
Cardioidea
] Family : Cardiidae
] Spisies : Anadara sp
Kerang adalah hewan air yang termasuk hewan bertubuh lunak
(moluska). Pengertian kerang bersifat umum dan tidak memiliki arti secara
biologi namun penggunaannya luas dan dipakai dalam kegiatan ekonomi.
Dalam pengertian paling luas, kerang berarti semua moluska dengan
sepasang cangkang. Dengan pengertian
ini, lebih tepat orang menyebutnya kerang-kerangan dan sepadan dengan arti clam
yang dipakai di Amerika. Contoh pemakaian seperti ini dapat dilihat pada
istilah "kerajinan dari kerang".
Kata kerang dapat pula berarti semua kerang-kerangan yang hidupnya
menempel pada suatu obyek. Ke dalamnya termasuk jenis-jenis yang dapat dimakan,
seperti kerang darah dan kerang hijau (kupang awung), namun tidak termasuk
jenis-jenis yang dapat dimakan tetapi menggeletak di pasir atau dasar perairan,
seperti lokan dan remis.
Kerang juga dipakai untuk menyebut berbagai kerang-kerangan yang
bercangkang tebal, berkapur, dengan pola radial pada cangkang yang tegas. Dalam
pengertian ini, kerang hijau tidak termasuk di dalamnya dan lebih tepat disebut
kupang. Pengertian yang paling mendekati dalam bahasa Inggris adalah cockle.
Dalam pengertian yang paling sempit, yang dimaksud sebagai kerang adalah kerang
darah (Anadara granosa), sejenis kerang budidaya yang umum dijumpai di wilayah
Indo-Pasifik dan banyak dijual di warung atau rumah makan yang menjual hasil
laut.
Ciri-ciri
Umum
Semua kerang-kerangan memiliki sepasang cangkang (disebut juga
cangkok atau katup) yang biasanya simetri cermin yang terhubung dengan suatu
ligamen (jaringan ikat). Pada kebanyakan kerang terdapat dua otot adduktor yang
mengatur buka-tutupnya cangkang. Kerang tidak memiliki kepala (juga otak) dan
hanya simping yang memiliki mata. Organ yang dimiliki adalah ginjal, jantung,
mulut, dan anus. Kerang dapat bergerak dengan "kaki" berupa semacam
organ pipih yang dikeluarkan dari cangkang sewaktu-waktu atau dengan
membuka-tutup cangkang secara mengejut.
Sistem sirkulasinya terbuka, berarti tidak memiliki pembuluh darah.
Pasokan oksigen berasal dari darah yang sangat cair yang kaya nutrisi dan
oksigen yang menyelubungi organ-organnya. Makanan kerang adalah plankton,
dengan cara menyaring. Kerang sendiri merupakan mangsa bagi cumi-cumi dan hiu. Semua
kerang adalah jantan ketika muda. Beberapa akan menjadi betina seiring dengan
kedewasaan.
Kandungan
Cangkang Kerang
cangkang
kerang mengandung kalsium karbonat (CaCO3) dalam kadar yang lebih
tinggi bila dibandingkan dengan batu gamping, cangkang telur, keramik, atau
bahan lainnya. Hal ini terlihat dari tingkat kekerasan cangkang kerang. Semakin
keras cangkang, maka semakin tinggi kandungan kalsium karbonat (CaCO3) nya. Maka jika
direaksikan dengan asam kuat seperti HCl dan ion logam yang terlarut dalam air
dapat mengendapkan kandungan logam.
D. Bulu Babi (Diadema Setosum)
Klasifikasi Ilmiah :
] Kingdom : Animalia
] Phylumc : Echinodermata
] Class : Echinoidea
] Ordo : Cidaroidea
] Family : Diadematidae
] Genus : Diadema
] Spesies : Diadema setosum
Klasifikasi Ilmiah :
] Kingdom : Animalia] Phylumc : Echinodermata
] Class : Echinoidea
] Ordo : Cidaroidea
] Family : Diadematidae
] Genus : Diadema
] Spesies : Diadema setosum
Bulu babi adalah istilah yang sering digunakan masyarakat awam. Sementara itu para ilmuan menyebutnya Echinoidea atau lazim juga disebut landak laut. Binatang ini memiliki bentuk tubuh yang membundar. Dan hampir semua permukaan tubuhnya dipenuhi dengan duri yang bisa bergerak. Terdapat kurang lebih 950 jenis bulu babi yang sudah ditemukan. Habitat hidupnya berada di wilayah pasang surut hingga kedalaman laut maksilmal 5.000 meter.
Ada beragam jenis bulu babi. Spesies yang populer dijumpai antara
lain Diadema Antillarum, Strongylocentortus, Spatangus, Echinarachnius dan
masih banyak lagi lainnya. Sementara itu, jika dibedakan dari varian warnanya,
maka bulu babi terdiri dari bulu babi berwarna hitam, coklat, ungu, merah dan
juga hijau. Binatang ini mengkonsumsi ganggang atau alga untuk bertahan hidup.
Karena makanan yang sehat, tidak heran jika kemudian telur bulu babi mengandung
protein sehat yang tinggi bahkan mencapai angka 70%. Selain itu, telur bulu
babi juga mengandung senyawa lain seperti zat besi, mineral juga asam amino.
Sayangnya, meski memiliki potensi gizi yang unggul, bulu babi masih
sering dianggap sampah laut dan dicap pengganggu. Para petani biasanya
menanamnya di dalam pasir agar tidak menusuk. Bulu babi juga dianggap
mengganggu pertumbuhan karang dan menyusahkan para penyelam dengan bulu
tajamnya.
Sementara itu, di Negara lain, bulu babi telah menjadi salah satu
komoditas laut yang cukup menjanjikan. Di Negara seperti Mediterania, New
Zeland, dan Amerika Utara, bulu babi lazim dikonsumsi mentah bersama perasan
jeruk lemon. Sementara itu di Jepang, bulu babi populer sebagai pelengkap
kuliner sushi juga sashimi. Jika membandingkan dengan potensi laut Indonesia,
maka seharusnya bulu babi tak hanya dijadkan sampah melainkan berkah ekonomi bagi
masyarakat kita. Terlebih, laut kita merupakan habitat binatang laut yang
lengkap termasuk si bulu babi.
Dengan komposisi senyawa yang dikandungnya, bulu babi cukup bergizi
untuk di konsumsi. Tak hanya itu, binatang ini juga terbukti mampu menyembuhkan
beberapa jenis penyakit misalnya mereduksi kolesterol jahat dalam darah,
menurunkan tekanan darah, memperbaiki sistem metabolisme, menambah vitalitas,
dan masih banyak lagi lainnya. Sementara itu, tak hanya bagian telur yang
berguna. Sebab hampir semua bagian tubuh bulu babi memiliki manfaat. Sebut saja
cangkangnya, bagian ini bisa diolah menjadi tepung yang digunakan sebagai paka
ternak. Tak hanya itu, bagian cangkang juga bisa dijadikan produk kerajinan
berkualitas tinggi. Sementara tu bagian lain seperti usus juga sangat baik
diolah menjadi pupuk organik.
Anatomi
dan Fisiologi
Pada mulanya, bulu babi sering terlihat sessile (diam), yaitu tidak
mampu bergerak. Kadang-kadang tanpa kehidupan yan paling mencolok adalah tulang
belakang, yang dipasang pada dasar ke sendi peluru dan dapat menunjuk ke segala
arah.
Kebanyakan bulu babi, sentuhan cahaya menimbulkan gerakan dan
reaksi yang dapat terlihat dari tulang belakang, yang memusat kea rah titik
yang disentuh. Bulu babi tidak punya mata yang dapat melihat, kaki, atau alat
gerak, tetapi dapat bergerak dengan bebas di atas permukaan, atas pertolongan
pelekatan kaki tabungnya, bekerja bersama dengan tulang belakang.
Bagian bulu babi yang dapat dimanfaatkan adalah gonad atau
telurnya, baik gonad jantan maupun gonad betina. Cangkang dari bulu babi
biasanya berupa cangkang dan organ dalam (jeroan) dapat diproses lebih lanjut
menjadi pupuk. Jenis Echinodermata yang penting yaitu Diodema Antilarum yang
berfungsi untuk menjaga keseimbangan perairan pantai.
E. Kepiting Bakau
Klasifikasi
Ilmiah :
] Filum :
Arthropoda
] Kelas :
Crustacea
] Ordo : Decapoda
] Family : Portunidae
] Genus : Scylla
] Spesies : Scylla serrate
Kepiting bakau (Scylla Sp) merupakan salah satu komoditasperikanan golongan crustacean yang hidup di perairan pantai khususnya di hutan-hutan bakau (Mangrove). Pada mulanya, kepiting bakau hanya dianggap hama oleh petani tambak karena sering membuat kebocoran pada pematang tambak. Tetapi setelah mempunyai nilai ekonomis tinggi, maka keberadaannya banyak diburu dan ditangkap oleh nelayan untuk menghasilkan tambahan dan bahkan telah mulai dibudidayakan secara tradisional di tambak.
Jumlah jenis kepiting yang tergolong dalam keluarga Portunidae di
perairan Indonesia diperkirakan lebih dari 100 spesies. Portunidae merupakan
salah satu keluarga kepiting yang mempunyai pasangan kaki jalan dan pasangan
kaki ke lima berbentuk pipih dan melebar pada ruas yang terakhir. Keluarga
Portunidae mencakup kepiting bakau (Scylla Sp) dan rajungan. Namun, kepiting
yang paling banyak di temukan di pasaran adalah kepiting bakau.
Kepiting bakau (Scylla Sp) mempunyai ciri-ciri morfologi yaitu
memiliki ukuran lebar kerapas lebih besar dari pada ukuran panjang tubuhnya dan
permukaannya agak licin. Pada dahi antara sepasang matanya terdapat enam buah
duri dan disamping kanan dan kirinya masing-masing buah sembilan buah duri.
Kepiting bakau jantan memiliki capit yang dapat mencapai dua kali
lipat dari pada panjang kerapasnya. Sedangkan kepiting bakau betina relative
lebih pendek. Selain itu, kepiting bakau juga memiliki tiga pasang kaki jalan
dan sepasang kaki renang.
Kepiting bakau jantan ditandai dengan abdomen bagian bawah
berbentuk segitiga meruncing, sedangkan kepiting bakau betina, bentuk
abdomennya melebar. Menurut Moos et al (1985), Genus Scylla termasuk dalam
sub-family Portunidae dengan ciri-ciri ; panjang pasangan kaki jalan lebih
pendek dari capit, pasangan kaki terakhir berbentuk dayung.
Morfologi
kepiting bakau (Scylla Sp) memiliki ukuran lebar karapas lebih besar dari pada ukuran panjang tubuhnya dan permukaannya agak licin. Pada dahi antara sepasang mata terdapat enam buah duri dan dismping kanan serta kirinya terdapat sembilan buah duri. Kepiting bakau jantan mempunyai sepasang capit yang dapat mencapai panjang hampir dua kali lipat daripada panjang karapasnya, sedangkan kepiting bakau betina relative lebih pendek. Selain itu kepiting bakau juga memiliki 3 pasang kaki jalan dan sepasang kaki renang. Kepiting bakau berjenis kelamin jantan ditandai dengan abdomen bagian bawah berbentuk segitiga meruncing, sedangkan pada kepiting bakau betina abdomen bawah berbentuk melebar.
Kepiting bakau Scylla serrta memiliki bentuk morfologi yang bergerigi, serta memiliki karapas dengan empat gigi depan tumpul dan setiap margin anterolateral memiliki sembilan gigi yang berukuran sama. Kepiting bakau memiliki capid yang kuat dan terdapat beberapa duri.
Organ-organ
dalam
Berdasrkan anatomi tubuh bagian dalam, mulut kepiting terbuka dan
terletak pada bagian bawah tubuh. Beberapa bagian yang terdapat di sekitar mulu
berfungsi dalam memegang makanan dan juga memompakan air dari mulut ke insang.
Kepiting memiliki rangka luar yang keras sehingga mulutnya tidak dapat dibuka
lebar. Hal ini menyebabkan kepiting lebih banyak menggunakn sapit dalam
memperoleh makanan. Makanan yang diperoleh dihancurkan dengan menggunakan
sapit, kemudian baru dimakan.
BAB IV
PENUTUP
a. Kesimpulan
Berdasarkan hasil studi lapangan di Pantai Boom, Pantai Mangrove, dan Pantai Pasir putih. Maka dapat disimpulkan bahwa pantai yang kami kujungi memiliki beberapa spesies hewan laut yang beragam, keindahan yang luar biasa, serta menarik untuk digunakan sebagai objek study lapangan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar siswa.
Berdasarkan hasil studi lapangan di Pantai Boom, Pantai Mangrove, dan Pantai Pasir putih. Maka dapat disimpulkan bahwa pantai yang kami kujungi memiliki beberapa spesies hewan laut yang beragam, keindahan yang luar biasa, serta menarik untuk digunakan sebagai objek study lapangan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar siswa.
b. Saran
Diharapkan laporan hasil studi lapangan ini dapat dijadikan bahan
acuan untuk mempelajari spesies-spesies hewan laut lebih lanjut. Sehingga
kritik yang membangun dari pembaca sangat diperlukan agar bisa mengantarkan
output yang lebih baik dari sebelumnya.
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
( DOKUMENTASI STUDI LAPANGAN )

Tidak ada komentar:
Posting Komentar