Senin, 26 September 2016

LAPORAN KEGIATAN STUDY LAPANGAN

LAPORAN KEGIATAN STUDY LAPANGAN

DI KAWASAN PANTAI TUBAN(P.BOOM, P.MANGROVE, P.PASIR PUTIH)


SMA NEGERI 1 SINGGAHAN
Jl. Raya Mulyoagung No. 1122 Singgahan – Tuban

TP. 2015/2016

Nama Kelompok :
Anas Afifi (02)
M. Iwan Falih (19)
Oktavia Safitri (23)
Yuni Dwi Parastuti (32)




LEMBAR PENGESAHAN

Study Lapangan di kawasan pantai tuban
Pantai BOOM
Pantai Mangrove Center
Pantai Pasir Putih


Disajikan sebagai salah satu tugas
Untuk melengkapi nilai di SMA Negeri 1 Singgahan


Singgahan, 12 Mei 2016    

Mengetahui,
Wali Kelas X-5                                                                  Guru Mata pelajaran




CIPUNG BAYU H, S.Pd                                                  SAMSUL HADI, S.Pd
NIP. -                                                                                 NIP. 19660316 199601 1 002






 KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadiran Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya pada kita semua sehingga kami bisa menyelesaikan Laporan Hasil Study Lapangan ini  dengan baik dan lancar, untuk melengkapi nilai di SMA Negeri Singgahan.
Tak lupa kami ucapkan terima kasih yang sebanyak – banyaknya kepada yang terhormat:

1. Bpk. Drs. Sigit Pujiono, selaku Kepala sekolah SMA Negeri 1 Singgahan
2. Bpk. Cipung Bayu H, S.Pd, selaku wali kelas X-5 yang telah mendampingi kita selama Study Lapangan
3. Bpk. Samsul Hadi, S.Pd, selaku Pembina Study Lapangan sekaligus Guru Mata pelajaran biologi
4. Siswa – siswi Kelas X-5 SMA negeri 1 Singgahan yg telah bekerjasama dengan baik selama Study Lapangan berlangsung.
5. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan Laporan Hasil Study Lapangan ini. Semoga segala bantuan dan dukungan yang diberikan kepada kami, mendapat imbalan yang berlipat dari Allah SWT, amin.

Kami menyadari dalam Laporan Hasil Study Lapangan ini masih banyak kekurangan, sehingga saran dan kritik yang membangun sangat kami butuhkan dalam penyempurnaan Laporan Hasil Study Lapangan ini. Atas saran, kritik maupun bantuaannya kami ucapkan terima kasih.
                                                                                                                     Singgahan, Mei 2016




 Penyusun







DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I : PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
b. Tujuan Study Lapangan
c. Manfaat Study LApangan
d. Waktu Pelaksanaan
BAB II : LANDASAN TEORI
a. Dasar Teori
b. Metodologi
BAB III : PEMBAHASAN
a. Hasil Observasi Studi Lapangan di Bandung
b. Penjelasan
BAB IV : PENUTUP
a. Kesimpulan
b. Saran
DAFTAR PUSAKA
LAMPIRAN





BAB I
PENDAHULUAN

a. Latar Belakang
Pelajar adalah peserta didik yang memiliki potensi intelektualnya memiliki tugas pokok dalam pendidikan di sekolah, guna pengembangan kemampuan dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dalam dimensi kehidupan masyarakat di Indonesia. Dalam dua perspektif tersebut, maka potensi yang dimiliki perlu dikembangkan, salah satunya dengan cara mengadakan Study Lapangan
Akan banyak memberikan efek positif kepada pelajar, karena dengan melihat dan mempelajari langsung maka para pelajar akan lebih terbuka wawasan dan intelektualnya sehingga pelajar yang dibimbing oleh guru tersebut menerapkan konsep ideal yang dipelajarinya dilapangan. Dan pendidikan akan berkembang lebih maju lagi.
SMA Negeri Singgahan tahun pelajaran 2015/ 2016 mengadakan Study Lapangan ke Kawasan pantai di wilayah Tuban untuk menambah wawasan. Kami mengunjungi Pantai Boom, Pantai Mangrove, dan Pantai Pasir putih supaya kami dapat mengetahui tentang jenis-jenis hewan laut yang ada di pantai tersebut, dapat menyebutkan nama dan ciri-cirinya, serta dapat menyebutkan manfaat dari hewan tersebut.

b. Tujuan Study Lapangan
a) Untuk mengetahui keanekaragaman hewan laut yang ada di pantai
b) Dapat menyebutkan nama dan ciri-ciri dari masing-masing jenis hewan laut yang ada di pantai
c) Untuk mengetahui klasifikasi dari jenis-jenis hewan laut yang diteliti
d) Dapat menyebutkan manfaat dari hewan laut yang ada diteliti
e) Untuk menambah pengetahuan dan wawasan siswa
c. Manfaat Study Lapangan
Hasil dari Study Lapangan ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
a) Menambah informasi dan ilmu pengetahuan tentang hewan laut
b) Sebagai bahan study lanjutan dalam pembelajaran

d. Waktu Pelaksanaan
     06.30                             Persiapan pemberangkatan (berkumpul di sekolah)
     06.30-07.30                   Berangkat dari sekolah ke Pantai BOOM
     07.30-10.00                   Pantai BOOM
     10.00-10.30                   Menuju ke Pantai Mangrove
     10.30-13.00                   Pantai Mangrove sekaligus ISHOMA
     13.00-13.30                   Menuju Pantai Pasir Putih
     13.30-15.00                   Pantai Pasir Putih
     15.00                             kembali ke sekolah






BAB II
LANDASAN TEORI

a. Dasar Teori
       Study Lapangan merupakan bagian dari metode pembelajaran, yang berusaha memberikan pengetahuan yang komprehensif kepada para siswa tentang sesuatu hal. Study Lapangan adalah kegiatan di luar kelas yang betujuan untuk mempelajari proses yang  sebenarnya, orang dan obyek. Study Lapangan diadakan  karena kebutuhan siswa untuk mendapatkan pengalaman dari tangan pertama. Hal tersebut diadakan karena tidak mungkin menghadirkan / memanfaatkan setiap peristiwa ke dalam kelas untuk dipelajari dan diamati.  Sebuah study lapangan memberikan banyak kemungkinan pencapaian tujuan pendidikan  antara lain :
       Study Lapangan menyediakan sebuah sumber  yang dapat memperkaya informasi faktual  yang tercantum dalam buku , dan membuat teks dalam buku menjadi berarti. Mengembangkan sikap, memperluas pengertian dan meningkatkan ketrampilan. Menyediakan berbagai pengalaman melalui obyek, tempat, situasi, dan hubungan antar manusia yang tidak dapat disediakan di kelas. Mempertajam kesadaran siswa terhadap lingkungan. Memadukan kelas dengan lingkungan yang lebih besar dan lebih berarti.

b. Metodologi
a) Waktu dan Tempat
Study Lapangan ini dilaksanakan pada hari Minggu, tanggal 17 April 2016 di Pantai BOOM, Pantai Mangrove, dan Pantai Pasir Putih di wilayah Tuban
b) Alat
Alat-alat yang dipakai dalam Study Lapangan ini adalah:
>>Alat tulis
>>Alat Dokumentasi (kamera digital dan handphone)
>>Toples plastik 3 buah

c) Metode yang digunakan
Metode yang kami gunakan untuk mencari informasi sebagai bahan pembuatan laporan hasil Study Lapangan adalah sebagai berikut:
1) Metode Observasi
Kami melakukan pengamatan terhadap hewan laut yang kami teliti secara langsung di lapangan.
2) Metode Online
Kami mencari data yang berhubungan dengan hewan laut yang kami teliti melaui media internet






BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

Setelah dilakukan Study Lapangan di Pantai BOOM, Mangrove, dan Pasir Putih oleh kelas X-5, kelompok kami mendapatkan beberapa jenis hewan laut diantaranya sebagai berikut:



A. Aurelia aurita (Ubur-Ubur)

Klasifikasi ilmiah :
   ] Kingdom : animalia
   ] Filum       : coelenterate
   ] Kelas       : schyphozoa
   ] Ordo        : decapoda
   ] Familia    : aureliaceae
   ] Genus      : Aurelia
   ] Spesies    : Aurelia aurita


Aurelia aurita (Ubur-Ubur) merupakan anggota filum Coelenterata, kelas Scyphozoa. Ubur-ubur mempunyai  bentuk seperti mangkuk yang dikenal sebagai Jelly Fish, hidup di laut secara planktonic yang melayang pada badan air, dan hewan ini memiliki lapisan mesoglea yang tebal dan dapat digunakan sebagai sumber nutrisi. Pada masa hidupnya, bentuk tubuh medusa lebih dominan dibandingkan dengan bentuk  polip. Bentuk polip hanya dijumpai pada waktu larva. Hewan ini memiliki alat kelamin yang terpisah pada individu jantan dan betina. Pembuahan ovum oleh sperma secara internal di dalam tubuh individu betina. Hasil pembuahan adalah zigot yang akan berkembang menjadi larva  bersilia disebut planula. Planula akan berenang dan menempel pada tempat yang sesuai. Setelah menempel. Silia dilepaskan dan planula tumbuh menjadi polip muda disebut scifistoma, kemudian membentuk tunas-tunas lateral sehingga tampak seperti tumpukan piring atau strobilasi. Kuncup dewasa paling atas akan melepaskan diri menjadi medusa disebut efira. Selanjutnya efira berkembang menjadi medusa dewasa.

Ubur-ubur memiliki siklus reproduksi khusus. Ubur-ubur tidak memiliki sistem tubuh khusus untuk reproduksi. Ubur-ubur jantan melepaskan sperma dalam air. Betina membawa telurnya di mulutnya atau perut. Ketika sperma yang dilepaskan di dalam air bersinggungan dengan telur betina, mereka dapat dibuahi. Pada tahap embrio, telur yang dibuahi tersebut disimpan dalam kantong mengerami sepanjang lengan mulut dari betina atau di perutnya. Setelah tahap embrio berakhir, larva bisa berubah menjadi planulae kecil yang berenang bebas dan mereka melepaskan diri dari tubuh ibu mereka. Pada tahap ini, mereka mulai tenggelam menjelang akhir dalam laut sampai mereka menempel pada permukaan yang keras dan tahap berikutnya dalam siklus reproduksi mereka dimulai.

a) ASEKSUAL (VEGETATIF)
 ]]  Dilakukan dengan membentuk kuncup pada kaki pada fase polip.
 ]]  Makin lama makin besar, lalu membentuk tentakel.
 ]]  Kuncup tumbuh disekitar kaki sampai besar hingga induknya membuat kuncup baru. Semakin banyak lalu menjadi koloni.

b) SEKSUAL (GENERATIF)
 ]]  Dilakukan dengan peleburan sel sperma dengan sel ovum (telur) yang terjadi pada fase medusa. Letak testis di dekat tentakel sedangkan ovarium dekat kaki.
 ]]  Sperma masak dikeluarkan lalu berenang hingga menuju ovum.
 ]]  Ovum yang dibuahi akan membentuk zigot.
 ]]  Mula-mula zigot tumbuh di ovarium hingga menjadi larva. Larva bersilia disebut Planula
 ]]  Planula berenang meninggalkan induk dan membentuk polip di dasar perairan.


B. Kepiting Uca (Kepiting pasir)
Klasifikasi Ilmiah :

     ] Kingdom         : Animalia
     ] Phylum           : Arthropoda
     ] Sub Phylum    : Crustacea
     ] Class               : Malacostraca
     ] Ordo               : Decapoda
     ] Family            : Ocypodidae
     ] Genus             : Uca
     ] Spesies            : Uca Sp




Kepiting Uca atau disebut juga Kepiting Fiddler mempunyai 97 spesies yang tersebar di hutan bakau, rawa-rawa, dan pada pantai berpasir atau berlumpur Barat Afrika, Atlantik Barat, Timur Pasifik dan Indo-Pasifik. Mereka sering ditemukan dalam jumlah besar.

Kepiting Uca memiliki perilaku lucu yaitu makan, bertengkar dan kawin, semua dilakukan pada waktu yang sama. Kepiting ini termasuk kepiting yang berukuran kecil (yang terbesar cuman sekitar 2-3 cm) Seperti semua kepiting, Kepiting Uca mengalami moulting atau berganti cangkang saat mereka tumbuh (seperti ganti kulit pada ular). Dalam proses moulting ini, capit dan kaki yang telah putus sebelumnya akan kembali muncul.

Hal yang unik dari kepiting ini adalah dwimorfisme seksual, dimana kepiting jantan mempunyai satu buah capit besar yang berwarna cerah kontras dengan karapaksnya, dan betina tidak mempunyai capit yang besar. Capit tersebut berbentuk seperti biola dan mempunyai berat hampir seberat kepiting itu sendiri. Capit besar tersebut digunakan untuk menarik betina dan untuk mengintimidasi jantan pesaingnya. Kepiting ini menggerakan capit besar dengan gaya dan irama unik dalam upaya untuk menarik betina. Kepiting Fiddler mendapat nama mereka untuk perilaku yang menyerupai seorang musisi bermain biolanya. Pada kepiting jantan, jika capit yang besar hilang maka setelah moulting capit besar tersebut akan tumbuh lagi di sisi sebelahnya (jika awalnya capit besar di sebelah kiri putus, maka setelah moulting bagian yang putus di sebelah kiri akan menjadi capit kecil, dan capit kanan akan membesar).

Kepiting Uca betina membawa kumpulan telur di sisi bawah tubuhnya dan akan menetap dalam liangnya selama dua minggu. Setelah itu betina akan berusaha keluar untuk melepaskan telurnya ke dalam air pasang surut. Telur menetas menjadi larva berenang bebas yang hanyut dengan plankton, namun berubah menjadi bentuk lain sebelum menetap dan berkembang menjadi Kepiting Uca.

Kepiting Uca merupakan detritivor. Capit Kepiting Uca yang kecil mengambil sepotong sedimen dari tanah dan membawanya ke mulut, kemudian menyaringnya. Setelah didapatkan baik itu ganggang, mikrobia, jamur, atau detritus membusuk lainnya, sedimen dikeluarkan dalam bentuk bola-bola kecil. Beberapa ahli percaya bahwa kebiasaan makan Kepiting Uca tersebut memainkan peranan penting dalam pelestarian lingkungan lahan basah, karena tanah menjadi teraduk dan mencegah kondisi anaerobik.

Kepiting Uca dapat mengubah warna. Kadang-kadang, mereka tampil beda di malam hari dan siang hari. Pada beberapa spesies, laki-laki mencerahkan warnanya selama musim kimpoi. Hal ini membuat sulit untuk mengidentifikasi spesies yang berbeda dari Kepiting Uca dengan warna mereka saja. Spesies umumnya dibedakan oleh struktur penjepit mereka daripada oleh warna saja. Karena keunikan dan keindahan bentuknya itu, maka Kepiting Uca ini di perjual belikan (kebanyakan masih luar negeri) dengan harga yang lumayan.



Habitat

Kepiting merupakan fauna yang habitat dan penyebarannya terdapat di air tawar, payau, dan laut. Jenis-jenisnya sangat beragam dan dapat hidup di berbagai kolom di setiap perairan. Sebagian besar kepiting yang kita kenal banyak hidup di perairan payau terutama di dalam ekosistem mangrove. Beberapa jenis yang hidup dalam ekosistem ini adalah Hermit Crab, Uca Sp, Mud Lobster dan kepiting bakau. Sebagian besar kepiting merupakan fauna yang aktif mencari makan di malam hari (nocturnal).


Konsentrasi maksimum kepiting terjadi pada malam hari pada saat air pasang. Kebanyakan kepiting memanjat akar mangrove dan pohon untuk mencari makan. Pada saat siang hari, waktu pasang terendah kebanyakan kepiting tinggal di dalam lubang untuk berlindung dari serangan burung dan predator lainnya. Beberapa spesies seperti Sesarma erythrodactyla dan Paragrapsus laevis pada saat air surut, turun ke bawah untuk berasosiasi dengan telur-telur ikan. 





C. Kerang (Anadara Sp)
      Klasifikasi Ilmiah :


     

        ] Kingdom                : Hewan
        ] Filum                      : Moluska

        ] Subfilum                 : Invertebrat
        ] Kelas                      : Bivalvia
        ] Ordo                       : Veneroida
        ] Super Keluarga      : Cardioidea
        ] Family                    : Cardiidae
        ] Spisies                    : Anadara sp





Kerang adalah hewan air yang termasuk hewan bertubuh lunak (moluska). Pengertian kerang bersifat umum dan tidak memiliki arti secara biologi namun penggunaannya luas dan dipakai dalam kegiatan ekonomi.
Dalam pengertian paling luas, kerang berarti semua moluska dengan sepasang cangkang.  Dengan pengertian ini, lebih tepat orang menyebutnya kerang-kerangan dan sepadan dengan arti clam yang dipakai di Amerika. Contoh pemakaian seperti ini dapat dilihat pada istilah "kerajinan dari kerang".
Kata kerang dapat pula berarti semua kerang-kerangan yang hidupnya menempel pada suatu obyek. Ke dalamnya termasuk jenis-jenis yang dapat dimakan, seperti kerang darah dan kerang hijau (kupang awung), namun tidak termasuk jenis-jenis yang dapat dimakan tetapi menggeletak di pasir atau dasar perairan, seperti lokan dan remis.
Kerang juga dipakai untuk menyebut berbagai kerang-kerangan yang bercangkang tebal, berkapur, dengan pola radial pada cangkang yang tegas. Dalam pengertian ini, kerang hijau tidak termasuk di dalamnya dan lebih tepat disebut kupang. Pengertian yang paling mendekati dalam bahasa Inggris adalah cockle. Dalam pengertian yang paling sempit, yang dimaksud sebagai kerang adalah kerang darah (Anadara granosa), sejenis kerang budidaya yang umum dijumpai di wilayah Indo-Pasifik dan banyak dijual di warung atau rumah makan yang menjual hasil laut.

Ciri-ciri Umum

Semua kerang-kerangan memiliki sepasang cangkang (disebut juga cangkok atau katup) yang biasanya simetri cermin yang terhubung dengan suatu ligamen (jaringan ikat). Pada kebanyakan kerang terdapat dua otot adduktor yang mengatur buka-tutupnya cangkang. Kerang tidak memiliki kepala (juga otak) dan hanya simping yang memiliki mata. Organ yang dimiliki adalah ginjal, jantung, mulut, dan anus. Kerang dapat bergerak dengan "kaki" berupa semacam organ pipih yang dikeluarkan dari cangkang sewaktu-waktu atau dengan membuka-tutup cangkang secara mengejut.
Sistem sirkulasinya terbuka, berarti tidak memiliki pembuluh darah. Pasokan oksigen berasal dari darah yang sangat cair yang kaya nutrisi dan oksigen yang menyelubungi organ-organnya. Makanan kerang adalah plankton, dengan cara menyaring. Kerang sendiri merupakan mangsa bagi cumi-cumi dan hiu. Semua kerang adalah jantan ketika muda. Beberapa akan menjadi betina seiring dengan kedewasaan.

Kandungan Cangkang Kerang

cangkang kerang mengandung kalsium karbonat (CaCO3) dalam kadar yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan batu gamping, cangkang telur, keramik, atau bahan lainnya. Hal ini terlihat dari tingkat kekerasan cangkang kerang. Semakin keras cangkang, maka semakin tinggi kandungan kalsium karbonat (CaCO3) nya. Maka jika direaksikan dengan asam kuat seperti HCl dan ion logam yang terlarut dalam air dapat mengendapkan kandungan logam.



D. Bulu Babi (Diadema Setosum)
Klasifikasi Ilmiah :
    ] Kingdom       : Animalia
    ] Phylumc        : Echinodermata
    ] Class             : Echinoidea
    ] Ordo             : Cidaroidea
    ] Family          : Diadematidae
    ] Genus           : Diadema
    ] Spesies         : Diadema setosum







Bulu babi adalah istilah yang sering digunakan masyarakat awam. Sementara itu para ilmuan menyebutnya Echinoidea atau lazim juga disebut landak laut. Binatang ini memiliki bentuk tubuh yang membundar. Dan hampir semua permukaan tubuhnya dipenuhi dengan duri yang bisa bergerak. Terdapat kurang lebih 950 jenis bulu babi yang sudah ditemukan. Habitat hidupnya berada di wilayah pasang surut hingga kedalaman laut maksilmal 5.000 meter.

Ada beragam jenis bulu babi. Spesies yang populer dijumpai antara lain Diadema Antillarum, Strongylocentortus, Spatangus, Echinarachnius dan masih banyak lagi lainnya. Sementara itu, jika dibedakan dari varian warnanya, maka bulu babi terdiri dari bulu babi berwarna hitam, coklat, ungu, merah dan juga hijau. Binatang ini mengkonsumsi ganggang atau alga untuk bertahan hidup. Karena makanan yang sehat, tidak heran jika kemudian telur bulu babi mengandung protein sehat yang tinggi bahkan mencapai angka 70%. Selain itu, telur bulu babi juga mengandung senyawa lain seperti zat besi, mineral juga asam amino.

Sayangnya, meski memiliki potensi gizi yang unggul, bulu babi masih sering dianggap sampah laut dan dicap pengganggu. Para petani biasanya menanamnya di dalam pasir agar tidak menusuk. Bulu babi juga dianggap mengganggu pertumbuhan karang dan menyusahkan para penyelam dengan bulu tajamnya.

Sementara itu, di Negara lain, bulu babi telah menjadi salah satu komoditas laut yang cukup menjanjikan. Di Negara seperti Mediterania, New Zeland, dan Amerika Utara, bulu babi lazim dikonsumsi mentah bersama perasan jeruk lemon. Sementara itu di Jepang, bulu babi populer sebagai pelengkap kuliner sushi juga sashimi. Jika membandingkan dengan potensi laut Indonesia, maka seharusnya bulu babi tak hanya dijadkan sampah melainkan berkah ekonomi bagi masyarakat kita. Terlebih, laut kita merupakan habitat binatang laut yang lengkap termasuk si bulu babi.

Dengan komposisi senyawa yang dikandungnya, bulu babi cukup bergizi untuk di konsumsi. Tak hanya itu, binatang ini juga terbukti mampu menyembuhkan beberapa jenis penyakit misalnya mereduksi kolesterol jahat dalam darah, menurunkan tekanan darah, memperbaiki sistem metabolisme, menambah vitalitas, dan masih banyak lagi lainnya. Sementara itu, tak hanya bagian telur yang berguna. Sebab hampir semua bagian tubuh bulu babi memiliki manfaat. Sebut saja cangkangnya, bagian ini bisa diolah menjadi tepung yang digunakan sebagai paka ternak. Tak hanya itu, bagian cangkang juga bisa dijadikan produk kerajinan berkualitas tinggi. Sementara tu bagian lain seperti usus juga sangat baik diolah menjadi pupuk organik. 


Anatomi dan Fisiologi
Pada mulanya, bulu babi sering terlihat sessile (diam), yaitu tidak mampu bergerak. Kadang-kadang tanpa kehidupan yan paling mencolok adalah tulang belakang, yang dipasang pada dasar ke sendi peluru dan dapat menunjuk ke segala arah.
Kebanyakan bulu babi, sentuhan cahaya menimbulkan gerakan dan reaksi yang dapat terlihat dari tulang belakang, yang memusat kea rah titik yang disentuh. Bulu babi tidak punya mata yang dapat melihat, kaki, atau alat gerak, tetapi dapat bergerak dengan bebas di atas permukaan, atas pertolongan pelekatan kaki tabungnya, bekerja bersama dengan tulang belakang.
Bagian bulu babi yang dapat dimanfaatkan adalah gonad atau telurnya, baik gonad jantan maupun gonad betina. Cangkang dari bulu babi biasanya berupa cangkang dan organ dalam (jeroan) dapat diproses lebih lanjut menjadi pupuk. Jenis Echinodermata yang penting yaitu Diodema Antilarum yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan perairan pantai. 


E. Kepiting Bakau
      Klasifikasi Ilmiah :
Kepiting Bakau P. Mangrove Tuban
    ] Kingdom         : Animalia
    ] Filum              : Arthropoda
    ] Kelas              : Crustacea
    ] Ordo               : Decapoda
    ] Family             : Portunidae
    ] Genus             : Scylla
    ] Spesies            : Scylla serrate



Kepiting bakau (Scylla Sp) merupakan salah satu komoditasperikanan golongan crustacean yang hidup di perairan pantai khususnya di hutan-hutan bakau (Mangrove). Pada mulanya, kepiting bakau hanya dianggap hama oleh petani tambak karena sering membuat kebocoran pada pematang tambak. Tetapi setelah mempunyai nilai ekonomis tinggi, maka keberadaannya banyak diburu dan ditangkap oleh nelayan untuk menghasilkan tambahan dan bahkan telah mulai dibudidayakan secara tradisional di tambak.
Jumlah jenis kepiting yang tergolong dalam keluarga Portunidae di perairan Indonesia diperkirakan lebih dari 100 spesies. Portunidae merupakan salah satu keluarga kepiting yang mempunyai pasangan kaki jalan dan pasangan kaki ke lima berbentuk pipih dan melebar pada ruas yang terakhir. Keluarga Portunidae mencakup kepiting bakau (Scylla Sp) dan rajungan. Namun, kepiting yang paling banyak di temukan di pasaran adalah kepiting bakau.
Kepiting bakau (Scylla Sp) mempunyai ciri-ciri morfologi yaitu memiliki ukuran lebar kerapas lebih besar dari pada ukuran panjang tubuhnya dan permukaannya agak licin. Pada dahi antara sepasang matanya terdapat enam buah duri dan disamping kanan dan kirinya masing-masing buah sembilan buah duri.
Kepiting bakau jantan memiliki capit yang dapat mencapai dua kali lipat dari pada panjang kerapasnya. Sedangkan kepiting bakau betina relative lebih pendek. Selain itu, kepiting bakau juga memiliki tiga pasang kaki jalan dan sepasang kaki renang.
Kepiting bakau jantan ditandai dengan abdomen bagian bawah berbentuk segitiga meruncing, sedangkan kepiting bakau betina, bentuk abdomennya melebar. Menurut Moos et al (1985), Genus Scylla termasuk dalam sub-family Portunidae dengan ciri-ciri ; panjang pasangan kaki jalan lebih pendek dari capit, pasangan kaki terakhir berbentuk dayung.

Morfologi
kepiting bakau (Scylla Sp) memiliki ukuran lebar karapas lebih besar dari pada ukuran panjang tubuhnya dan permukaannya agak licin. Pada dahi antara sepasang mata terdapat enam buah duri dan dismping kanan serta kirinya terdapat sembilan buah duri. Kepiting bakau jantan mempunyai sepasang capit yang dapat mencapai panjang hampir dua kali lipat daripada panjang karapasnya, sedangkan kepiting bakau betina relative lebih pendek. Selain itu kepiting bakau juga memiliki 3 pasang kaki jalan dan sepasang kaki renang. Kepiting bakau berjenis kelamin jantan ditandai dengan abdomen bagian bawah berbentuk segitiga meruncing, sedangkan pada kepiting bakau betina abdomen bawah berbentuk melebar. 

Kepiting bakau Scylla serrta memiliki bentuk morfologi yang bergerigi, serta memiliki karapas dengan empat gigi depan tumpul dan setiap margin anterolateral memiliki sembilan gigi yang berukuran sama. Kepiting bakau memiliki capid yang kuat dan terdapat beberapa duri. 

Organ-organ dalam
Berdasrkan anatomi tubuh bagian dalam, mulut kepiting terbuka dan terletak pada bagian bawah tubuh. Beberapa bagian yang terdapat di sekitar mulu berfungsi dalam memegang makanan dan juga memompakan air dari mulut ke insang. Kepiting memiliki rangka luar yang keras sehingga mulutnya tidak dapat dibuka lebar. Hal ini menyebabkan kepiting lebih banyak menggunakn sapit dalam memperoleh makanan. Makanan yang diperoleh dihancurkan dengan menggunakan sapit, kemudian baru dimakan.





BAB IV
PENUTUP

a. Kesimpulan
Berdasarkan hasil studi lapangan di Pantai Boom, Pantai Mangrove, dan Pantai Pasir putih. Maka dapat disimpulkan bahwa pantai yang kami kujungi memiliki beberapa spesies hewan laut yang beragam, keindahan yang luar biasa, serta menarik untuk digunakan sebagai objek study lapangan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar siswa.

b. Saran
Diharapkan laporan hasil studi lapangan ini dapat dijadikan bahan acuan untuk mempelajari spesies-spesies hewan laut lebih lanjut. Sehingga kritik yang membangun dari pembaca sangat diperlukan agar bisa mengantarkan output yang lebih baik dari sebelumnya.



DAFTAR PUSTAKA







LAMPIRAN
( DOKUMENTASI STUDI LAPANGAN )
                                 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar